BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Dua kekayaan manusia yang paling utama
ialah akal dan budi atau tang lazim disebut pikiran dan perasaan. Di sisi lain
akal dan budi memungkinkan munculnya karya – karya manusia yang sampai kapan
pun tidak pernah akan dapat dihasilkan oleh makhluk lain.cipta, karsa dan rasa
pada manusia sebagai buah akal budinya terus melaju tanpa hentinya berusaha
menciptakan benda – benda baru untuk memenuhi hidup hajat hidupnya, baik yang
bersifat jasmani maupun rohani. Dari proses ini maka lahirlah apa yang disebut
kebudayaan.
Berangkat dari batasan tersebut, maka yang
dimaksudkan dengan manusia sebagai makhluk berbudaya tidak lain adalah makhluk
yang senantiasa mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan.
Karena yang membahagiakan hidup manusia itu hakikatnya sesuatu yang baik, benar
dan adil, maka dapat dikatakan hanya manusia yang selalu berusaha menciptakan
kebaikan, kebenaran dan keadilan sajalah tang berhak menyandang gelar manusia
berbudaya.
Sesuai dengan kedudukan sebagai makhluk
individu, mkhluk social, dan makhluk ciptaan tuhan, maka kebaikan, kebenaran
dan keadilan yang diusahakan itu pun tidak hanya semata – mata untuk dirinya,
melainkan juga untuk masyarakat sekitarnya, bahkan juga untuk makhluk yang lain dalam pengertian demi
memuliakan tuhan sebagai sang pencipta. Seseorang itu disebut bebudaya apabila
perilakunya dituntun oleh akal budinya sehingga mendatangkan kebahagiaan bagi
diri dan lingkungannya serta tidak bertentangan dengan kehendak tuhan.
Kebahagiaan memang hak semua orang, untuk
memperolehnya setiap orang dapat menggunakan cara, gaya, akal,dan melalui
berbagai upaya sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang dimilikinya. Namun
satu hal harus diingat, apa pun cara dan jalan mana yang ditempuh harus tidak
boleh merusak atau melanggar kemanusiaan manusia pada umumnya serta melanggar
batas – batas yang telah ditetapkan tuhan.
Budaya itu terdapat pada suatu makhluk
apabila ia mampu mengambil jarak dari alam. Setiap manusia itu berbudaya,
diantara alam dan dirinya, manusia menyisipkan sesuatu dan dengan sarana itulah
ia mengambil jarak dari alam sehingga ia mampu menelaah dan mengertinya. Sarana
– sarana tersebut antara lain : bahasa, mitos dan agama yang oleh Cassirer
dinamakan lambang. Bahasa bekerjanya begitu banyak dengan berbagai lambang
yakni bunyi – bunyinya tertentu yang lebih dari kicauan burung atau auman
harimau, memiliki makna yakni menunjuk kepada sesuatu. Senipuisi menyodorkan
suatu kesan atau pesan dari penulisnya.
Aspek estetika dari budaya sudah terdapat
pada masyarakat primitif. Gua – gua manusia purba juga dihiasi dengan lukisan
dinding tentang hewan perburuan. Mereka sudah memainkan pula tarian – tarian
dengan musiknya, yang mula – mula selalu bertalian dengan upacara kepercayaaan.
Hingga sekarang seni merupakan aspek budaya yang paling menonjol. Selain
manusia menikmati keindahan dengan berbagai cara, ia pun menikmati humor.
Sehubungan ini tertawa mengandung keindahan pula. Semakin tinggi taraf
humornya. Di samping itu permainan juga aspek budaya yang penting. Bahkan
filsuf huizingan melihat manusia homo lundes yaitu manusia yang bermain, karena
permainan pun merupakan pembentukan budaa pula.
1.2
Rumusan masalah
Dalam makalah ini
kami mempunyai rumusan masalah:
1.
Apa pengertian hakikat
manusia dan kebudayaan
2.
Apa wujud dan bentuk
manusia dan kebudayaan
3.
Apa unsur-unsur manusia
dan kebudayaan
4.
Bagaimana proses perubahan
kebudayaan (transformasi) di masyarakat
5.
Apa hakikat hubungan
manusia dan kebudayaan
I.
KAJIAN PUSTAKA
Manusia adalah mahluk paling sempurna yang
pernah diciptakan oleh Allah SWT, yang dimana proses penciptaan manusia melalui
beberapa fase yang berasal dari tanah (saripati tanah ) sehingga menjadi bayi
yang ditiupkan ruh. Kesempurnaan yang dimiliki oleh manusia merupakan suatu
konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah dimuka bumi ini. Manusia juga merupakan
makhluk sosial, hidup berdampingan
satu sama lain, berinteraksi dan saling berbagi sehingga membentuk suatu
budaya. Setiap manusia memiliki potensi
dalam dirinya yang diberikan oleh Allah. Potensi itu meliputi: potensi
jasmani (fisik), ruhani (spiritual), dan akal (mind).
Kebudayaan
berasal dari kata budaya yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan budi dan
akal manusia. Definisi Kebudyaan itu sendiri adalah sesuatu yang akan
mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang
terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari,
kebudayaan itu bersifat abstrak. Namun kebudayaan juga dapat kita nikmati dengan
panca indera kita. Lagu, tari, dan bahasa merupakan salah satu bentuk
kebudayaan yang dapat kita rasakan.
Manusia dan kebudayaan merupakan salah satu ikatan yang tak bisa dipisahkan dalam kehidupan ini.
Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna menciptakan kebudayaan
mereka sendiri dan melestarikannya secara turun menurun. Budaya tercipta dari kegiatan sehari
hari dan juga dari kejadian – kejadian yang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.
Ø Unsur-Unsur yang Membangun Manusia
o
Manusia terdiri dari 4 unsur:
1. Jasad :
Tubuh manusia yang dapat dilihat dan diraba
2. Hayat : Unsur
hidup yang ditandai dengan aktivitas
3. Ruh
: Bersifat spritual berhubugan langsung dengan Tuhan
4. Nafs
: Kesadaran/akal tentang diri sendiri
o
Manusia Sebagai Satu Kepribadian Mengandung Tiga Unsur :
1.
ID
: Merupakan kepribadian yang mendasar
2.
EGO
: Bagian dari ID sebagai kepribadian yang berbeda dari lainnya
3. SUPER
EGO : Struktur kepribadian yang paling akhir terbentuk dari luar
Ø Hakekat Manusia
o Makhluk ciptaan Tuhan
terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai kesatuan yang utuh
o Memiliki perasaan
intelektual, estetis, etis, diri, sosial, religius
o Makhluk hayati dan
budayawi
o Makhluk ciptaan Tuhan yang
terikat dengan lingkungan
Ø Unsur-Unsur Kebudayaan
o
Sistem religi
o
Sistem organisasi kemasyarakatan
o
Sistem pengetahuan
o
Sistem ekonomi
o
Sistem teknologi dan peralatan
o
Bahasa
o
Kesenian
Ø
Wujud Kebudayaan
Menurut dimensi wujudnya, kebudayaan mempunyai
tiga wujud yaitu :
- Kompleks
gagasan, konsep, dan pikiran manusia
- Kompleks
aktivitas
- Wujud sebagai
benda
Ø
Transformasi Kebudayaan
o Karakteristik Perubahan
Sosial dan budaya
1.
Tidak ada masyarakat yang perkembangannya berhenti karena setiap masyarakat
mengalami perubahan secara cepat ataupun lambat.
2.
Perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan akan diikuti perubahan pada
lembaga sosial yang ada.
3.
Perubahan yang berlangsung cepat biasanya akan mengakibatkan kekacauan
sementara karena orang akan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan perubahan
yang terjadi.
4.
Perubahan tidak dapat dibatasi pada bidang kebendaan atau spiritual saja karena
keduanya saling berkaitan.
o Faktor Pendorong Perubahan
Menurut Soerjono Soekanto ada tiga faktor yang mendorong terjadinya perubahan
sosial, yaitu:
·
Terjadinya kontak atau sentuhan dengan kebudayaan lain
·
Sistem pendidikan formal yang
maju.
·
Sikap menghargai hasil karya orang dan keinginan untuk maju.
o
Sebab-Sebab Perubahan Sosial Budaya
Sebab Intern, Merupakan
sebab yang berasal dari dalam masyarakat sendiri, antara lain:
a. Dinamika penduduk.
b. Adanya penemuan-penemuan baru yang
berkembang di masyarakat
c. Munculnya berbagai bentuk pertentangan
(conflict) dalam masyarakat.
d. Terjadinya
pemberontakan atau revolusi sehingga mampu menyulut terjadinya
perubahan-erubahan besar
Sebab Ekstern, Merupakan
sebab yang berasal dari dalam masyarakat sendiri, antara lain:
a. Adanya
pengaruh bencana alam.
b.
Adanya peperangan.
c.
Adanya pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
Manusia mempunyai empat kedudukan terhadap
kebudayaan yaitu sebagai
1) penganut kebudayaan,
2) pembawa kebudayaan,
3) manipulator kebudayaan, dan
4) pencipta kebudayaan.
II.
PEMBAHASAN
3.1
MANUSIA
3.1.1 Pengertian
Manusia di dalam dunia ini memegang
peranan unik, dan dapat dipandang dari banyak segi. Dalam ilmu eksakta, manusia
dipandang sebagai kumpulan dari partikel-patikel atom yang membentuk
jaringan-jaringan sistem yang dimiliki oleh manusia (ilmu kimia), manusia
merupakan kumpulan dari berbagai system fisik yang saling terkait satu sama
lain dan merupakan kumpulan dari energi (ilmu fisika), manusia merupakan
mahluluk biologis yang tergolong dalam golongan mahluk mamalia (biologi). Dalam
ilmu-ilmu sosial, manusia merupakan mahluk yang ingin memperoleh keuntungan
atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan, sering disebut homo economicus
(ilmu ekonomi), manusia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat berdiri
sendiri (sosoilogi), mahluk yang selalu ingin mempunyai kekuasaan (politik),
mahluk yang berbudaya, sering disebut homo-humanus (filsafat), dan lain
sebagainya.
Jika dilihat dan unsur-unsurnya ada beberapa pembagian, yaitu :
1. Manusia memiliki empat unsur
yang saling terkait, yaitu:
a. Jasad; yaitu
badan kasar manusia yang tampak pada luarnya, dapat di raba, difoto, serta
menempati ruang dan waktu
b. Hayat; yaitu
mengandung unsur hidup, yang ditandai dengan gerak
c. Ruh, yaitu
Pimpinan dan bimbingan Tuhan, daya yang bekerja secara spiritual dan memahami
kebenaran, suatu kemampuan mencipta yang bersifat konseptual yang menjadi pusat
lahirnya kebudayaan.
d. Nafs; dalam
pengertian diri atau keakuan, yaitu kesadaran tentang diri sendiri.
2. Manusia memiliki tiga unsur
kepribadian, yaitu:
a. Id. Yang
merupakan struktur kepribadian yang paling primitiv dan paling tidak tampak. Id
merupakan libido murni atau energi psikis yang menunjukan ciri alami
yang irrasional dan terkait masalah sex, yang secara instingtual menentukan
proses-proses ketidaksadaran. Id tidak berhubungan dengan lingkungan luar diri,
tetapi terikat dengan struktur lain kepribadian yang pada gilirannya menjadi
mediator antara insting Id dengan dunia Luar.
b. Ego.
Merupakan bagian atau struktur bagian yang pertama kali di bedakan dari Id,
sering kali di sebut sebagai kepribadian ”eksekutif” karena peranannya dalam
menghubungkan energi Id ke dalam saluran sosial yang dapat dimengerti oleh
orang lain.
c. Superego.
Merupakan struktur kepribadian yang paling akhir, muncul kira2 pada usia lima
tahun. Dibandingkan dengan Id dan Ego, yang berkembang secara internal dalam
diri individu, superego terbentuk dari lingkungan eksternal. Jadi superego
menunjukkan pola aturan yang dalam drajat tertentu menghasilkan control diri
melalui sistem imbalan dan hukuman yang terinternalisasi.
3.1.2
Penciptaan Manusia
Al-Qur’an telah memberikan informasi
kepada kita mengenai proses penciptaan manusia melalui beberapa fase: dari
tanah menjadi lumpur, menjadi tanah liat yang dibentuk, menjadi tanah kering,
kemudian Allah swt. meniupkan ruh kepadanya, lalu terciptalah Adam a.s. Kemudian,
dalam ayat lain juga disebutkan mengenai permulaan penciptaan manusia yang
berasal dari tanah.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ
كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ
مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ
مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى
أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ
وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ
لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً
فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ
كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ .
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan
tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya kami telah
menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal
darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak
sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa
yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian kami keluarkan
kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada
kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara
kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi
sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan, kamu lihat bumi ini kering,
kemudian apabila telah kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan
suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah”. (Q.S.
al-Hajj [22]: 5)
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ . ثُمَّ خَلَقْنَا
النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ
عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آَخَرَ
فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ .
“Kemudian kami
jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami
jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang-belulang,
lalu tulang-belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia
makhluk yang (berbentuk) lain. Maka, Mahasuci-lah Allah, Pencipta yang paling
baik.” (Q.S. al-Mu’minuun [23]: 13-14)
Itulah di antara sekian banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang
asal-usul penciptaan manusia. Penciptaan manusia yang bermula dari tanah ini
tidak berarti bahwa manusia dicetak dengan memakai bahan tanah seperti orang
membuat patung dari tanah. Akan tetapi, penciptaan manusia dari tanah tersebut
bermakna simbolik, yaitu saripati yang merupakan faktor utama dalam pembentukan
jasad manusia. Penegasan Al-Qur’an yang menyatakan bahwa manusia diciptakan
dari tanah ini merujuk pada pengertian jasadnya. Oleh karena itu, Al-Qur’an
menyatakan bahwa kelak ketika ajal kematian manusia telah sampai, maka jasad
itu akan kembali pula ke asalnya, yaitu tanah
Secara komprehensif, Umar Shihab memaparkan bahwa proses penciptaan
manusia terbagi ke dalam beberapa fase kehidupan sebagai berikut. Pertama,
fase awal kehidupan manusia yang berupa tanah. Manusia berasal dari tanah disebabkan
oleh dua hal: (1) manusia adalah keturunan Nabi Adam a.s. yang diciptakan dari
tanah; (2) sperma atau ovum yang menjadi cikal bakal manusia bersumber dari
saripati makanan yang berasal dari tanah. Kedua, saripati makanan yang
berasal dari tanah tersebut menjadi sperma atau ovum, yang disebut oleh
Al-Qur’an dengan istilah nutfah. Ketiga, kemudian sperma dan ovum
tersebut menyatu dan menetap di rahim sehingga berubah menjadi embrio (‘alaqah).
Keempat, proses selanjutnya, embrio tersebut berubah menjadi segumpal
daging (mudlghah). Kelima, proses ini merupakan kelanjutan dari mudlghah.
Dalam hal ini, bentuk embrio sudah mengeras dan menguat sampai berubah menjadi
tulang belulang (‘idzaam). Keenam, proses penciptaan manusia
selanjutnya adalah menjadi daging (lahmah). Ketujuh, proses
peniupan ruh. Pada fase ini, embrio sudah berubah menjadi bayi dan mulai
bergerak. Kedelapan, setelah sempurna kejadiannya, akhirnya lahirlah
bayi tersebut ke atas dunia.
3.1.3
Hakikat Manusia
a. Mahluk ciptaan tuhan yang terdiri dari
tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.
Tubuh adalah materi
yang dapat dilihat, diraba, dirasa, wujudnya konkrit tetapi tidak abadi. Jika
manusia itu meninggal, tubuhnya hancur dan lenyap. Jiwa terdapat didalam tubuh,
tidak dapat dilihat, tidak dapat diraba,sifatnya abstrak tetapi abadi. Jika
mausia meninggal, jiwa lepas dari tubuh dan kembali ke asalnya yaitu Allah SWT.
b. Mahluk ciptaan tuhan yang paling
sempurna,jika di bandingkan dengan mahluk yang lain.
Kesempurnaanya terletak pada adab dan budayanya, karena manusia
dilengkapi oleh penciptaanya dengan akal, perasaan, dan kehendak yang terdapat
didalam jiwa manusia. Dengan akal ( ratio) manusia mampu menciptakan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Adanya nilai baik dan buruk, mengahruskan manusia mampu
memepertimbangkan, menilai dan berkehendak menciptakan kebenaran, keindahan,
kebaikan atau sebaliknya. Selanjutnya dengan adnya perasaan, manusia mampu
menciptakan kesenian.
c. Mahluk biokultural, yaitu mahluk hayati
yang budayawi
Manusia adalalah produk saling tindak atau interaksi factor-faktor hayati
dan budayawi. Sebagai mahluk hayati, manusia dapat dipelajari dari segi-segi
anatomi, fisiologi, biokimia, psikobiologi, patologi, genetika, evolusi
biologisnya dan sebagainya. Sebagai mahluk budayawi mnusia dapat dipelajari
dari segi-segi : kemasyarakatan, kekerabatan, psikologi sosial, kesenian,
ekonomi, bahasa dan sebagainya.
d. Mahluk ciptaan Tuhann yang terikat
dengan lingkungan (ekologi), mempunyai kualitas dan martabat karena kemampuan
bekerja dan berkarya.
Soren Kienkegaard seorang filsuf pelopor ajaran “eksistesialisme”
memandang manusia dalam konteks kehidupan konkrit adalah mahluk alamaiah yang
terikat denganmanusia dalam konteks kehidupan konkrit adalh mahluk yang terikat
dengan lingkungannya
Hidup manusia
mempunyai tiga taraf, yaitu estetis, etis dan religius. Dengan kehidupan estetis, manusia mampu menangkap
dunia sekitarnya sebagai dunia yang mengagumkan dn mengungkap kembali dalam
lukisan, tarian, nyanyian yang indah. Dengan etismanusia meningkatkan kehidupan
estesis ke dalam tingkatan manusiawi dalam bentuk-bentukkeputusan bebas dan
dipertanggung jawabkan. Dengan kehidupan religious, manusia menghayati
pertemuanya dengan tuhan.
Hakikat manusia dalam islam adalah makhluk yang dimuliakan, dibebani tugas, bebas
memilih dan bertanggung jawab.
3.1.4 Potensi
Manusia
Manusia diciptakan sebagai makhluk paling mulia dan terbaik di antara
makhluk ciptaan Tuhan lainnya karena dibekali berbagai macam potensi yang tidak
dimiliki oleh makhluk lain. Namun terkadang, kita tidak sadar bahkan tidak tahu
sama sekali apa potensi yang ada pada diri kita sehingga terkadang kita hidup
dengan kondisi seadanya, mudah menyerah dan tidak mempunyai impian besar. Kita
menjalani rutinitas hidup apa adanya tanpa ada kekuatan untuk menjadikan hidup
kita lebih baik.
Jika kita mau merenung, sebenarnya ketika kita diciptakan, Tuhan pasti
tidak akan membiarkan hamba-Nya hidup dalam kesengsaraan dan penderitaan. Maka
dari itulah Tuhan membekali manusia dengan segenap potensi yang ada dalam
dirinya. Potensi itu meliputi: potensi jasmani (fisik), ruhani (spiritual), dan
akal (mind). Ada tiga potensi penting untuk manusia, yaitu Hati, Akal, dan
Jasad.
·
Hati ( Ruhani)
Dengan hati, manusia memiliki pengendalian diri. manusia dapat membedakan
mana yang haq dan mana yang batil, mana yang benar dan mana yang salah, mana
yang indah dan mana yang buruk Jika hati manusia bersih, maka ia akan selalu
menerima yang haq, menerima yang benar dan menerima yang indah, dan begitu pula
sebaliknya.
·
Akal
Dengan
akal, manusia bisa berpikir menciptakan sesuatu, menjalankan sesuatu, yang
kesemuanya adalah hasil dari kumpulan-kumpulan ilmu. Ilmu yang bermanfaat akan
digunakan oleh banyak orang, sehingga orang yang satu dengan yang lain saling
berinteraksi. Akal sehat menciptakan sesuatu yang baik dan berguna bagi
kehidupan manusia, jika akal tidak sehat maka akan menciptakan hal-hal
merugikan manusia.
·
Jasad ( Jasmani)
Dengan jasad, manusia
bisa melakukan kegiatan yang bermanfaat yang diikuti kerja hati dan akal. Jasad
berfungsi mengaplikasikan secara perbuatan oleh apa-apa yang dihasilkan hati
dan akal. Semua yang dilakukan manusia dengan jasad bisa menjadi harapan baik
jika ia melakukan hal bermanfaat bagi keluarga, sanak sodara, dan bangsanya.
Manusia yang pandai dan beruntung adalah ia yang bisa memanfaatkan ketiga
potensi tersebut untuk beribadah hanya kepada Allah. Hati yang dijaga dari
penyakit hati akan membantu akal untuk berpikir bersih dan positif sehingga
menghasilkan ide atau ilmu baik yang akan diterapkan, dilakukan oleh jasad.
Ketiga potensi saling bekerjasama untuk menjadikan manusia berakhlak mulia dan
hamba Allah yang setia.
Ketiga potensi ini akan memberikan kemampuan kepada manusia untuk
menentukan dan memilih jalan hidupnya sendiri. Manusia diberi kebebasan untuk
menentukan takdirnya. Semua itu tergantung dari bagaimana mereka memanfaatkan
potensi yang melekat dalam dirinya.
Ketiga potensi tersebut saling menunjang dan melengkapi, tetapi dari
ketiga komponen itu, potensi spiritual dan akal memegang peranan penting dalam
menentukan kesuksesan seseorang dalam kehidupan, sebab dari kedua potensi
itulah manusia akan tahu kemana akan melangkah, apa yang diinginkan, dan apa
yang harus dilakukan. Potensi fisik hanya menunjang kedua potensi tersebut agar
lebih sempurna, walau peranannya juga tidak bisa disepelekan.
Banyak orang yang mengeluh ketika dikaruniai fisik yang kurang sempurna. Mereka
merasa seakan-akan hidupnya tidak berguna. Akhirnya mereka menjadi orang-orang
yang berputus asa dan menjadi beban bagi orang lain. Mereka melupakan potensi
akal dan spiritual yang dikaruniakan Tuhan. Dalam sejarah kehidupan manusia,
ada banyak orang-orang yang luar biasa, mereka dikaruniai keterbatasan fisik,
tetapi justru dengan itulah mereka dapat menghasilkan prestasi yang
mengagumkan. Mereka menjadikan keterbatasan mereka sebagai motivasi untuk
meraih prestasi tinggi. Seperti Hirotada Ototake, orang Jepang yang ketika
dilahirkan tidak mempunyai tangan dan kaki tetapi ia tidak pernah menyerah, ia
berusaha untuk hidup normal dan berprestasi. Ia pernah menjadi ketua OSIS di
SMAnya, menjuarai kontes bahasa Inggris, dan berhasil masuk di salah satu
perguruan tinggi terbaik di Jepang. Saat ini ia merupakan seorang motivator
laris dan menulis buku berjudul “No One’s Perfect”.
3.2 KEBUDAYAAN
3.2.1 Pengertian
Kebudayaan jika dikaji dari asal kata bahasa sansakerta berasal dari kata
budhayah yang berarti budi atau akal.
Dalam bahsa latin, kebudayaan berasal dari kata colore, yang berarti mengolah
tanah, jadi kebudayaansecara umum dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang
dihasilkan oleh akal budi (pikiran) manusia dengan tujuan untuk mengolah tanah
atau tempat tinggalnya. Atau dapat pula diartikan segala usaha manusia untuk
dapat melangsungkan dan mempertahankan hidupnya.
Kebudayaan dengan demikian mencakup segala aspek kehidupan manusia, baik
yang sifatnya material, seperti peralatan-peralatan kerja dan teknologi, maupun
yang non-material, seperti nilai kehidupan dan seni-seni tertentu.ropolog
Menurut E.B.Tylor (1871) seorang antropolog, kebudayann adalah kompleks
yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat
dan kemampuan-kemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatakan oleh
manusia sebagai masyarakat. Dengan demikian peerkataan lain kebudayaaan
mencakup kesemuanya yang didapatkan atau dipelajarioleh manusia sebagai anggota
masyarakat.
Selo Sumarjan dan Soelaeman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua
hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi
dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah yang dapat diperlukan oleh
manusia untuk mengusai alam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya dapat
diabadikan untuk masyarakat.
Sutan Takdir Alisyahbana mengatakan bahwa kebudayaan adalah menifestasi
dari cara berfikir, hal ini amat luas apayang disebut kebudayaan; sebab semua
laku dan perbuatan tercakup di dalamnya, dan dapat diungkapkan pada basis dan
cara berpikir ,perasaan juga maksud pikiran.
Krober dan Klukhon (1950) mengajukan konsep kebudayaan sebagai kupasan
kritis dari defifnisi-definisi kebudayaan yang mendekati. Definisinya adalah:
Kebudayaan terdiri atas berbagai pola, bertingkah laku mantap, pikiran,
perasaan dan reaksi yang diperoleh dan terutama diturunkan oleh symbol-simbol
yang menyusun pencapaiannya secara tersendiri dari kelompok-kelompok manusia,
termasuk didalamnya perwujudan benda-benda materi.
Dari berbagai pendapat tentang pengertian Kebudayaaan atau pun yang
disebut peradaban, dapat disimpulkan kebudayaan itu mengandung pengertian yang
luas, meliputi pemahaman perasaan suatu bangsa yang kompleks, meliputi
pengetahuan, kepercayaan, senei, moral, hokum, adat istiadat (kebiasaan), dan
pembawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat.
Kebudayaan dalam kaitanya dengan ilmu budaya dasar adalah penciptaan,
penerbitan dan pengelolaan nilai-nilai
isansi. Tercakup didalamnya usaha memanusiakan diri di alam lingkungan, baik
fisik maupun sosial.
3.2.2
Wujud Kebudayaan
Menurut dimensi wujudnya, kebudayaan
mempunyai tiga wujud yaitu
1.
Kompleks gagasan, konsep, dan
pikiran manusia
Wujud ini disebut sistem budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dillihat
dan berpusat pada kepala-kepala manusia yang menganutnya, atau dengan perkataan
laindalam alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan bersangkutan hidup.
Kalau warga masyarakat tadi menyatakan gagasan mereka dalam tulisan, maka
lokasi dari kebudayaan ideal sering berada dalam karangan dan buku-buku hasil
karya para penulis warga masyarakat yang bersangkutan. Sekarang kebudayaan
ideal juga banyak tersimpan dalam disk, arsip, koleksi micro fim, dan
microfish.
2.
Kompleks aktivitas
Berupa aktivitas manusia yang saling berinteraksi, bersifat kongkrit,
dapat diamati atau diobservasi. Wujud ini sering disebut system system sosial. System sosial ini terdiri dari
aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu
dengan yang lain dari det ke detik, dari hari ke hari, dan dari tahun ke tahun,
selau menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sebagai
rangkain aktivitas manusia dalam masyarakat, sistem sosial bersifat konkret,
terjadi disekeliling kita sehari-hari, bias observasi, difoto dan
didokumentasi.
3.
Wujud sebagai benda
Aktivitas manusia yang saling berinteraksi tidak lepas dari berbagai
penggunaan peralatan sebagai hasil karya manusia untuk mencapai tujuannya.
Aktivitas karya manusia menghasilkan benda untuk berbagai keperluan hidupnya.
Kebudayaan dalam bentuk fisik yang kongkret bias juga disebut kebudayan fisik,
mulai dari benda yang dim sampai pada benda yang bergerak.
Ketiga wujud dari kebudayaan tadi, dalam kenyataan kehidupan masyarakt
tak terpisah satu sama lain. Kebudayaan ideal dan adat istiadat mengatur dan
member arah kepada tindakan-tindakan dan karya manusia. Baik pikiran-pikiran
dan ide-ide, maupun tindakan dalam karya manusia, menghasilkan benda-benda
kebudayaan fisiknya. Sebaliknya, kebudayaan fisik membentuk suatu lingkungan
hidup tertentu yang makin lama makin menjauhkan manusia dari lingkungan
alamiahnya sehingga mempengaruhi pula pola-pola perbuatannya, bahkan juga cara
berfikirnya.
Semua unsur budaya dapat dipandang dari sudut ketiga
wujud masing-masing tadi. Sebagai contoh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Sebagai suatu lembaga pendidikan tinggi islam, sekolah tinggi tersebut
merupakan suatu unsur dalam rangka kebudayan Indonesia dan Agama Islam. Maka
oleh karena itu sekolah tinggi dapat merupakan suatu unsur kebudayaan yang
ideal, yang pada khususnya terdiri dari cita-cita sekolah tinggi, norma-norma
para karyawan, dosen atau mahasiswanya, tata tertib ujian, pandangan-pandangan
baik yang bersifat ilmiah maupun popular, dan sebagainya. Sebaliknya UIN Maliki
juga terdiri dari suatu rangkaian aktivitas dan tindakan dimana warga UIN dan
sekitarnya saling berhubungan atau berinteraksi dalam hal melaksanakan berbagai
macam kegiatan. Ada yang memberi kuliah, ada yang mencatat, ada yang meminjam
buku, berorganisasi, mengetik surat, dan sebagainya.
3.2.3 Unsur-Unsur Kebudayaan
Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan
mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:
Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
- sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota
masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
- organisasi ekonomi
- alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan
(keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
- organisasi
kekuatan (politik)
Dan terdapat tiga unsur yang terpenting adalah
sistem pengetahuan, nilai, dan pandangan hidup.
1. Sistem Pengetahuan
Para ahli menyadari bahwa masing-masing suku
bangsa di dunia memiliki sistem pengetahuan tentang:Alam sekitar, Alam flora
dan fauna, Zat-zat, manusia, Sifat-sifat dan tingkah laku sesama manusia,Ruang
dan waktu.Unsur-usur dalam pengetahuan inilah yang sebenarnya menjadi materi
pokok dalam dunia pendidikan di seluruh dunia.
2. Nilai
Menilai berarti menimbang, yaitu kegiatan
manusia untuk menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain untuk dijadikan
pertimbangan dalam mengambil keputusan. Keputusan nilai dapat menentukan
sesuatu berguna atau tidak berguna, benar atau salah, baik atau buruk, religius
atau sekuler, sehubungan dengan cipta, rasa dan karsa manusia.
Sesuatu dikatakan mempunyai nilai apabila
berguna dan berharga (nilai kebenaran), indah (nilai estetis), baik (nilai
moral atau etis), religius (nilai agama). Prof. Dr. Notonagoro membagi nilai
menjadi tiga bagian yaitu:
- Nilai material, yaitu segala sesuatu (materi) yang berguna
bagi manusia.
- Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia
untuk dapat mengadakan kegiatan dan aktivitas
- Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang bisa berguna bagi
rohani manusia.
3. Pandangan Hidup
Pandangan hidup adalah suatu nilai-nilai yang
dianut oleh suatu masyarakat dan dipilih secara selektif oleh individu,
kelompok atau suatu bangsa. Pandangan hidup suatu bangsa adalah kristalisasi
nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa itu sendiri, yang diyakini kebenarannya,
dan menimbulkan tekad pada bangsa itu untuk mewujudkannya.
Menurut konsep B. Malinowski,
kebudayaan di dunia mempunyai tujuh
unsur universal, yaitu:
1. Sistem
Religi
Kepercayaan manusia terhadap adanya Sang Maha Pencipta yang muncul karena
kesadaran bahwa ada zat yang lebih dan Maha Kuasa.
2. Sistem
Organisasi Kemasyarakatan
Sistem yang muncul karena kesadaran manusia
bahwa meskipun diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna namun tetap
memiliki kelemahan dan kelebihan masing – masing antar individu sehingga timbul
rasa utuk berorganisasi dan bersatu.
3.
Sistem Pengetahuan
Sistem yang terlahir karena setiap manusia
memiliki akal dan pikiran yang berbeda sehingga memunculkan dan mendapatkan
sesuatu yang berbeda pula, sehingga perlu disampaikan agar yang lain juga
mengerti.
4. Sistem
Mata Pencaharian Hidup dan Sistem – Sistem Ekonomi
Terlahir karena manusia memiliki hawa nafsu dan
keinginan yang tidak terbatas dan selalu ingin lebih.
5.
Sistem Teknologi dan Peralatan
Sistem yang timbul karena manusia mampu
menciptakan barang – barang dan sesuatu yang baru agar dapat memenuhi kebutuhan
hidup dan membedakan manusia dengam makhluk hidup yang lain.
6. Bahasa
Sesuatu yang berawal dari hanya sebuah kode,
tulisan hingga berubah sebagai lisan untuk mempermudah komunikasi antar sesama
manusia. Bahkan sudah ada bahasa yang dijadikan bahasa universal seperti bahasa
Inggris.
7. Kesenian
Setelah
memenuhi kebutuhan fisik manusia juga memerlukan sesuatu yang dapat memenuhi
kebutuhan psikis mereka sehingga lahirlah kesenian yang dapat memuaskan.
3.2.4 Transformasi Kebudayaan
Ada beberapa
ahli yang berpendapat tentang trasformasi atau perubahan budaya.
1. Max Weber berpendapat bahwa perubahan sosial budaya adalah
perubahan situasi dalam masyarakat sebagai akibat adanya ketidaksesuaian
unsur-unsur.
2. W. Kornblum berpendapat bahwa perubahan sosial budaya adalah
perubahan suatu budaya masyarakat secara bertahap dalam jangka waktu lama.
a. Karakteristik Perubahan Sosial dan budaya
Dengan memahami definisi
perubahan sosial dan
budayadi atas, maka suatu
perubahan dikatakan sebagai perubahan sosial budaya apabila memiliki
karakteristik sebagai berikut.
1. Tidak ada
masyarakat yang perkembangannya berhenti karena setiap masyarakat mengalami
perubahan secara cepat ataupun lambat.
2. Perubahan
yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan akan diikuti perubahan pada lembaga
sosial yang ada.
3. Perubahan
yang berlangsung cepat biasanya akan mengakibatkan kekacauan sementara karena
orang akan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.
4. Perubahan
tidak dapat dibatasi pada bidang kebendaan atau spiritual saja karena keduanya
saling berkaitan.
Suatu perilaku atau yang sudah
menjadi kebiasaan akan sulit untuk diubah. Masyarakat lebih menyukai kehidupan
mereka berjalan seperti biasa dan berusaha untuk mempertahankan hal-hal yang
nyaman. Kondisi ini menjadi alasan bahwa adanya hal-hal baru pada awalnya
cenderung ditolak.
Sebagai contoh, orang tuamu mungkin menolak ketika kamu meminta sebuah
handphone baru. Bagi mereka, kamu belum cukup dewasa untuk menggunakan alat
komunikasi tersebut. Di sini kebanyakan orang lupa bahwa alat komunikasi
seperti handphone dibutuhkan semata-mata sebagai alat penghubung antar manusia
dalam berkomunikasi, dan tidak ada hubungan dengan kedewasaan seseorang. Tentu
seorang anak balita tidak mungkin menggunakan handphone, karena belum mempu
menguasai dan mengoperasikan alat tersebut.
Pada umumnya masyarakat sulit
mengikuti perubahan yang akan merubah kebiasaan, lembaga sosial, kepercayaan
dan kebiasaan. Namun ini tidak berarti bahwa semua perubahan selalu mendapat
tantangan dari seluruh anggota masyarakat.
Sikap masyarakat yang terbuka
beraneka ragam kebudayaan, cenderung menghasilkan warga masyarakat yang lebih
mudah untuk menerima kebudayaan asing atau baru. Sebaliknya, masyarakat yang
tertutup lebih sulit membuka diri dan mengadakan perubahan. Terbuka dan
tertutupnya sebuah masyarakat tidak harus melalui kontak sosial secara
langsung. Akses terhadap media komunikasi juga menjadi faktor penentu terbuka
atau tertutupnya sebuah masyarakat.
Terjadinya
sebuah
perubahan tidak selalu berjalan dengan lancar, meskipun perubahan tersebut diharapkan
dan direncanakan. Terdapat faktor yang mendorong sehingga mendukung perubahan,
tetapi juga ada faktor penghambat sehingga perubahan tidak berjalan sesuai yang
diharapkan.
b.
Faktor Pendorong Perubahan
Faktor pendorong merupakan alasan
yang mendukung terjadinya
perubahan. Menurut Soerjono Soekanto ada tiga faktor yang mendorong terjadinya
perubahan sosial, yaitu:
1. Terjadinya kontak atau
sentuhan dengan kebudayaan lain.
Bertemunya budaya yang
berbeda menyebabkan manusia saling berinteraksi dan mampu menghimpun berbagai
penemuan yang telah dihasilkan, baik dari budaya asli maupun budaya asing, dan
bahkan hasil perpaduannya. Hal ini dapat mendorong terjadinya perubahan dan
tentu akan memperkaya kebudayaan yang ada.
2. Sistem pendidikan formal
yang maju.
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang bisa mengukur tingkat kemajuan sebuah
masyarakat. Pendidikan telah membuka pikiran dan membiasakan berpola pikir
ilmiah, rasional, dan objektif. Hal ini akan memberikan kemampuan manusia untuk
menilai apakah kebudayaan masyarakatnya memenuhi perkembangan zaman, dan perlu
sebuah perubahan atau tidak.
3. Sikap menghargai hasil karya orang dan
keinginan untuk maju.
Sebuah hasil karya bisa memotivasi seseorang untuk mengikuti jejak karya.
Orang yang berpikiran dan berkeinginan maju senantiasa termotivasi untuk
mengembangkan diri.
c. Bentuk Perubahan Sosial Budaya
1. Perubahan
sebagai suatu kemajuan (progress)
Perubahan
sebagai suatu kemajuan merupakan perubahan yang memberi dan membawa kemajuan
pada masyarakat. Hal ini tentu sangat diharapkan karena kemajuan itu bisa
memberikan keuntungan dan berbagai kemudahan pada manusia. Perubahan kondisi
masyarakat tradisional, dengan kehidupan teknologi yang masih sederhana,
menjadi masyarakat maju dengan berbagai kemajuan teknologi yang memberikan
berbagai kemudahan merupakan sebuah perkembangan dan pembangunan yang membawa
kemajuan. Jadi, pembangunan dalam masyarakat merupakan bentuk perubahan ke arah
kemajuan (progress).
2. Perubahan dalam arti progress misalnya
listrik masuk desa, penemuan alat-alat transportasi, dan penemuan alat-alat
komunikasi.
Masuknya
jaringan listrik membuat kebutuhan manusia akan penerangan terpenuhi;
penggunaan alat-alat elektronik meringankan pekerjaan dan memudahkan manusia
memperoleh hiburan dan informasi; penemuan alat-alat transportasi memudahkan
dan mempercepat mobilitas manusia proses pengangkutan; dan penemuan alat-alat
komunikasi modern seperti telepon dan internet, memperlancar komunikasi jarak
jauh.
3. Perubahan sebagai suatu kemunduran
(regress)
Tidak semua
perubahan yang tujuannya ke arah kemajuan selalu berjalan sesuai rencana.
Terkadang dampak negatif yang tidak direncanakan pun muncul dan bisa
menimbulkan masalah baru. Jika perubahan itu ternyata tidak menguntungkan bagi
masyarakat, maka perubahan itu dianggap sebagai sebuah kemunduran.
d.
Sebab-Sebab Perubahan Sosial
Budaya
Sebuah perubahan bisa
terjadi karena sebab dari dalam (intern) atau sebab dari luar (ekstern). Dalam
sebuah masyarakat, perubahan sosial dan budaya bisa terjadi karena sebab dari
masyarakat sendiri atau yang berasal dari luar masyarakat.
1. Sebab Intern
Merupakan sebab yang berasal dari dalam
masyarakat sendiri, antara lain:
a.
Dinamika
penduduk, yaitu pertambahan dan
penurunan jumlah penduduk.Pertambahan penduduk akan menyebabkan perubahan pada
tempat tinggal. Tempat tinggal yang semula terpusat pada lingkungan kerabat akan berubah atau terpancar
karena faktor pekerjaan. Berkurangnya penduduk juga akan menyebabkan perubahan
sosialaya. Contoh perubahan penduduk adalah program transmigrasi dan urbanisasi.
b. Adanya
penemuan-penemuan baru yang
berkembang di masyarakat, baik penemuan yang bersifat baru (discovery) ataupun
penemuan baru yang bersifat menyempurnakan dari bentuk penemuan lama
(invention).
c. Munculnya
berbagai bentuk pertentangan
(conflict) dalam masyarakat.
d. Terjadinya
pemberontakan atau revolusi
sehingga mampu menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar. Misalnya,
Revolusi Rusia (Oktober 1917) yang mampu menggulingkan pemerintahan kekaisaran
dan mengubahnya menjadi sistem diktator proletariat yang dilandaskan pada
doktrin Marxis. Revolusi
tersebut menyebabkan perubahan yang mendasar, baik dari tatanan negara hingga
tatanan dalam keluarga.
2. Sebab Ekstern
Merupakan sebab yang berasal dari
dalam masyarakat sendiri, antara lain:
a. Adanya
pengaruh bencana alam.
Kondisi ini terkadang memaksa masyarakat suatu
daerah untuk mengungsi meninggalkan tanah kelahirannya. Apabila masyarakat
tersebut mendiami tempat tinggal yang baru, maka mereka harus menyesuaikan diri
dengan keadaan alam dan lingkungan yang baru tersebut. Hal ini kemungkinan
besar juga dapat memengaruhi perubahan pada struktur dan pola kelembagaannya.
b. Adanya
peperangan.
Peristiwa peperangan, baik perang saudara
maupun perang antar negara dapat menyebabkan perubahan, karena pihak yang
menang biasanya akan dapat memaksakan ideologi dan kebudayaannya kepada pihak
yang kalah.
c.
Adanya pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
Bertemunya dua kebudayaan yang berbeda akan
menghasilkan perubahan. Jika pengaruh suatu kebudayaan dapat diterima tanpa
paksaan, maka disebut
demonstration effect.
Jika pengaruh suatu kebudayaan saling menolak, maka disebut
cultural
animosity. Jika suatu
kebudayaan mempunyai taraf yang lebih tinggi dari kebudayaan lain, maka akan muncul
proses imitasi yang lambat laun unsure-unsur kebudayaan asli dapat bergeser
atau diganti oleh unsure-unsur kebudayaan baru tersebut.
Antara
manusia dan kebudayaan terjalin hubungan yang sangat erat, sebagaimana yang
diungkapkan oleh Dick Hartoko bahwa manusia menjadi manusia merupakan
kebudayaan.
Hampir
semua tindakan manusia itu merupakan kebudayaan. Hanya tindakan yang sifatnya
naluriah saja yang bukan merupakan kebudayaan, tetapi tindakan demikian
prosentasenya sangat kecil. Tindakan yang berupa kebudayaan tersebut dibiasakan
dengan cara belajar. Terdapat beberapa proses belajar kebudayaan yaitu proses
internalisasi, sosialisasi dan enkulturasi.
Selanjutnya
hubungan antara manusia dengan kebudayaan juga dapat dilihat dari kedudukan
manusia tersebut terhadap kebudayaan. Manusia mempunyai empat kedudukan
terhadap kebudayaan yaitu sebagai
1) penganut kebudayaan,
2) pembawa kebudayaan,
3) manipulator kebudayaan, dan
4) pencipta kebudayaan.
Pembentukan kebudayaan dikarenakan
manusia dihadapkan pada persoalan yang meminta pemecahan dan penyelesaian.
Dalam rangka survive maka manusia harus mampu memenuhi apa yang menjadi
kebutuhannya sehingga manusia melakukan berbagai cara.
Hal yang dilakukan oleh manusia
inilah kebudayaan. Kebudayaan yang digunakan manusia dalam menyelesaikan
masalah-masalahnya bisa kita sebut sebagai way of life, yang digunakan individu
sebagai pedoman dalam bertingkah laku.
Disamping itu, kebudayaan manusia
itu menciptakan suatu keindahan yang biasa kita sebut dengan suatu seni.
Keindahan/seni dibutuhkan oleh setiap manusia agar kehidupan yang dijalaninya
menjadi indah sentosa.
Manusia dan keindahan/seni memang
tak bisa dipisahkan sehingga diperlukan pelestarian bentuk keindahan yang
dituangkan dalam berbagai bentuk kesenian (seni rupa, seni suara maupun seni pertunjukan)
yang nantinya manjadi bagian dari kebudayaannya yang dapat dibanggakan
III. ANALISA, SOLUSI DAN
KESIMPULAN
http://tafany.wordpress.com/2007/11/08/hakikat-manusia-dalam-islam-by-prima-karin-nabila-zahra/
http://asrainhere.blogspot.com/2010/10/potensi-manusia.html